Showing posts with label ilmu falak. Show all posts
Showing posts with label ilmu falak. Show all posts

Sunday, June 1, 2014

Muhammadiyah dan NU Berbeda Pendapat Soal Awal Ramadhan 2014

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) akan berbeda lagi dalam mengawali Ramadhan 1435 Hijriah, karena Muhammadiyah sudah menetapkan pada 28 Juni 2014, sedangkan NU memperkirakan pada 29 Juni 2014.

"Muhammadiyah menetapkan awal puasa jatuh pada 28 Juni 2014, dasarnya menurut Hisab Hakiki dengan kriteria Wujudul Hilal," kata Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim H Nadjib Hamid di Surabaya, Ahad (1/6).

Dia mengatakan Ramadhan akan berbeda lagi (dengan NU), namun lebaran Idul Fitri nampaknya sama (bareng). Dengan dasar/kriteria itu, ijtimak menjelang Ramadhan terjadi pada hari Jumat tanggal 27 Juni 2014 pukul 15.10 WIB. Saat matahari terbenam, hilal (rembulan usia muda yang menjadi tanda pergantian awal kalender) sudah wujud dengan ketinggian 31 menit dan 17 detik.

"Artinya, 27 Juni malam sudah shalat tarawih, jadi diperkirakan tidak bersamaan lagi, karena kurang dari 2 derajat, tapi hari raya (Idul Fitri) akan bersamaan," katanya.

Secara terpisah, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur HM Sholeh Hayat yang juga koordinator Rukyatul Hilal PWNU Jatim itu menegaskan bahwa awal Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Minggu tanggal 29 Juni 2014 sekitar pukul 15.20 WIB sore dengan posisi hilal 0,085 derajat.

"Karena posisi hilal yang sulit dirukyat itu, maka bulan Sya'ban diistikmalkan (digenapkan/disempurnakan) menjadi 30 hari, tapi hal itu masih merupakan hasil hisab (perhitungan matematis) dan NU masih akan melakukan rukyatul hilal (perhitungan awal kalender dengan melihat hilal secara kasat mata)," papar Sholeh.(rol/SP)

Monday, May 26, 2014

Pesan Ilmiah Isro' Mi'roj Nabi Muhammad

Oleh: Dr. Agus Purwanto D.Sc - Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) ITS, mantan Vice- President of Saijou-Hiroshima Moslem Association.

“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan tanda-tanda Kami ....” (QS al-Isra’:1)

Al-Qur’an menyatakan bahwa tidak satu pun ciptaan serta kejadian di alam semesta ini yang kebetulan dan sia-sia. Para pemikir seperti Aristoteles dan Einstein pun menyatakan bahwa alam semesta bertindak sesuai tujuan tertentu. Bila demikian, apa yang hendak Dia perlihatkan melalui isra’ dan mi’raj? Artikel ini membahas aspek fisika dari peristiwa malam 27 Rajab satu tahun sebelum nabi saw hijrah.

Dimensi EkstraTeori relativitas khusus (TRK) menyatakan bila orang bergerak dengan laju tinggi maka dia akan mengalami pemuluran (dilasi) waktu. Artinya, satu menit bagi orang yang bergerak bisa jadi lima menit bagi orang lain yang diam. Sebagian orang mencoba menjelaskan isra’ mi’raj dengan TRK dan didukung QS al-Ma’arij: 3-4. Ayat ini mengisyaratkan pemuluran waktu, yakni satu hari perjalanan malaikat dan ruh setara dengan 50 ribu tahun. Ini berarti kecepatan malaikat dan ruh sama dengan kecepatan cahaya.

Implikasinya, bukan saja malaikat yang tersusun dari nur (cahaya) melainkan juga ruh. Karena menurut prinsip TRK, hanya materi tak bermassa yang bisa bergerak dengan laju cahaya dan materi tersebut hanya foton yang tidak lain adalah gelombang medan elektromagnetik. Penafsiran ini pada gilirannya menuntun pada kesimpulan bahwa isra’ dan mi’raj nabi saw hanya sebatas ruhnya.

Bila dikaitkan dengan kosmologi modern penjelasan ala TRK menjadi tidak memadai. Menurut model jagat raya berkembang, baik jagat raya tertutup, terbuka maupun datar mi’raj nabi saw semalam hanya akan sampai di ruang angkasa yang material. Nabi saw tidak pernah sampai di ruang spiritual tempat sidratul muntaha.

Alternatifnya, isra’ mi’raj difahami dengan konsep dimensi ekstra. Dalam ilustrasi dua dimensi ruang tertutup mengembang diberikan oleh permukaan balon dengan tempelan potongan-potongan kecil kertas. Permukaan balon adalah jagat raya secara keseluruhan, potongan kertas menyatakan galaksi sedangkan permukaan balon tanpa tempelan adalah ruang antar galaksi. Bila ditiup balon akan mengembang dan kertas-kertas akan berjauhan. Artinya, alam semesta berkembang dan galaksi-galaksi saling menjauh.

Dalam sudut pandang ruang tiga dimensional, terdapat ruang di dalam dan di luar permukaan bola. Dari sisi jagat raya dua dimensional ruang di dalam dan di luar permukan dapat dipandang sebagai dimensi ekstra dari jagat raya tertutup dua dimensi. Dalam perspektif ini bisa dikatakan bahwa langit adalah ruang selain permukaan bola. Dan mi’raj adalah keluar dari langit material dan masuk langit atau ruang immaterial. Lebih spesifiknya, nabi saw keluar dari permukaan bola tiga dimensi (hypersphere) menuju dimensi lebih tinggi dimana Sidratul Muntaha berada.

Dimensi ekstra dikenal baik di fisika. Keberhasilan memadukan gaya elektromagnetik dengan gaya lemah dalam teori elektrolemah menuntun pada teori kemanungalan agung (Grand Unified Theory, GUT). GUT klasik belum sepenuhnya berhasil merealisasikan impian kemanunggalan gaya elektromagnetik, lemah dan kuat. Impian tersebut baru dipenuhi oleh GUT supersimetrik dengan konsep superruang delapan dimensinya. Empat dimensi ruang-waktu kita dan empat lainnya adalah dimensi Grassmannian tempat pasangan super setiap ciptaan berada.

Tetapi GUT supersimetrik masih menyisakan masalah hirarki konstanta kopling gaya-gaya. Tahun 1998 Arkani Hamed dkk menggagas unseen atau extra dimension dan berhasil mengatasi masalah tersebut. Di dalam konsep dimensi ekstra ruang-waktu empat dimensi tempat kita tinggal digambarkan sebagai garis lurus pada permukaan tabung silinder. Sedangkan keseluruhan permukaan lainnya merepresentasikan dimensi yang lebih tinggi. Partikel pasangan super yang berada di dimensi Grassmannian atau bulk particle di dalam dimensi ekstra versi Arkani Hamed bisa berinteraksi dengan partikel di ruang kita pada tingkat energi tertentu.

Dimensi ekstra ini juga diisyaratkan oleh QS al-Naml 38-40 dalam kisah pemindahan singgasana ratu Bulqis ke istana nabi Sulaiman dalam sekedipan mata. Dimensi ekstra juga diisyaratkan oleh hadis-hadis yang menyatakan bahwa majelis-majelis ta’lim dikelilingi oleh para malaikat yang ikut berdzikir dan mendo’akan peserta ta’lim. Jin dan malaikat ada di sekitar kita tetapi kita tak pernah bertabrakan dengan mereka. Mereka hidup di ruang dengan dimensi yang lebih tinggi tetapi kita bisa berinteraksi dengan jin di ruang manusia.

Teleportasi Kuantum
Sekelompok penjelajah pemberani memasuki kamar khusus; pulsa cahaya, dengung efek bunyi dan para hero menghilang dan tak lama kemudian muncul kembali di permukaan planet nun jauh. Itulah impian dari teleportasi yakni kemampuan melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain tanpa harus melewati lintasan panjang yang membosankan, tanpa kendaraan fisik dan setumpuk ransum.

Teleportasi kuantum mengeksploitasi prinsip dasar dari mekanika kuantum. Ahli fisika teori sejak awal menyatakan bahwa fisika kuantum membawa pada banyak fenomena yang tampak tak masuk akal sekalipun. Sebenarnya mekanika kuantum secara prinsip tidak memungkinkan proses teleportasi. Kaidah ketidakpastian Heisenberg tidak memungkinkan kita mengetahui secara tepat posisi dan momentum suatu obyek pada waktu yang bersamaan. Akibatnya, tidak mungkin men-scan secara sempurna suatu obyek yang akan diteleportasikan. Scanning akan senantiasa memberikan error atas lokasi dan kecepatan elektron dan atom suatu obyek.

Satu dasa warsa lalu, fisikawan C.H.Bennet dari IBM, G.Brassard, C.Crepeau dan R. Josza dari Universitas Montreal, dan A.Peres dari Institut Teknologi Technion Israel menemukan cara memanfaatkan kuantum untuk teleportasi. Dan teleportasi kuantum telah menjadi kenyataan laboratorium bagi foton, partikel individual dari cahaya. Meskipun demikian teleportasi dari benda skala makro masih berupa fantasi. Barangkali kita pun bisa berspekulasi bahwa Isra’ Mi’raj adalah teleportasi kuantum dalam skala makro!

Islamisasi Sains

Sains modern telah memberi kemajuan material yang luar biasa tetapi juga membawa manusia pada keterasingan (alienasi) dan kehampaan spiritual. Sains telah melakukan klaim-klaim di luar wewenangnya serta meneguhkan pandangan dunia mekanik yang mengesampingkan peran Tuhan di dalam kehidupan dunia ini. Akibat keterasingan dan berbagai krisis orang merindukan sains alternatif yang dibangun dengan paradigma baru. Sains dengan tataran ontologis, aksiologis, maupun epistemologis yang lebih komprehensif. Sains holistik yang tidak mengabaikan peran wahyu dalam tataran epistemologisnya.

Terkait dengan kerinduan tersebut, pendekatan sains-wahyu mestinya dibalik menjadi wahyu-sains. Penafsiran isra’ mi’raj di atas adalah contoh alur pikiran sains-wahyu, hasil sains dicari dan disesuaikan untuk mendukung nash kitab suci. Pola yang mestinya kita kembangkan adalah pola wahyu-sains. Wahyu dan tradisi dijadikan sebagai pijakan untuk membangun sains. Dunia sufi mengenal nama Husain ibnu Mansur al-Hallaj (858-922M). Ajaran al-Hallaj yang cukup populer adalah Haqiqot al-Muhammadiyah yang intinya menyatakan bahwa awal mula dari segala penciptaan adalah Nur-Muhammad. Muhammad saw terjadi dalam dua rupa yaitu rupa yang qodim (terdahulu) dan baharu. Dari rupa yang qodim yaitu Nur-Muhammad diciptakan segala sesuatu termasuk empat anasir api, udara, tanah dan air. Nur-Muhammad adalah pusat kesatuan alam, pusat nubuwwah semua nabi serta sumber pancaran ilmu dan hikmah serta meliputi seluruh ciptaan. Rupanya yang baharu adalah rupanya sebagai manusia nabi dan rasul yang diutus Tuhan dan merupakan bagian kecil dari pancaran Nur-Muhammad sendiri.

Ide ciptaan al-Hallaj sejalan dengan penciptaan jagat raya versi The Big Bang. Dalam skenario Big Bang yang semula ada adalah superbola api yang supermampat dan superpanas. Bola api ini meledak secara dahsyat dan terhamparlah ruang dan waktu, gaya-gaya, partikel-partikel, inti atom, atom, molekul, bintang dan galaksi serta kehidupan. Sisa radiasi saat ledakan besar yang disebut Cosmic Microwave Background Radiation (CMBR) terdeteksi oleh astronom A.Penzias dan R.Wilson. Nur-Muhammad setara dengan super bola api, bunyi ledakan besar Big Bang dengan firman Tuhan KUN (Jadilah), dan Nur-Muhammad yang meliputi seluruh alam ciptaan dengan CMBR. Di dunia kalam juga terdapat hal serupa. Jauh sebelum atomisme kuantum lahir dunia islam telah mempunyai atomisme Asy’ariyah yang unik. Atom sebagai al-juz alladzi laayatajazza, bagian atau eksistensi yang tak bisa dibagi lagi merupakan penyusun dunia. Atom merupakan lokus yang memberi substansi pada aksiden.

Atomisme Asy’ariyah mempunyai tiga karakteristik. Pertama, atom tidak mempunyai ukuran dan homogen tetapi terpadu membentuk benda yang mempunyai entitas. Kedua, jumlah atom tertentu dan berhingga. Asy’ariyah, berdasarkan QS al-Jin:28 menolak ketakberhinggaan mazhab atomis Yunani. Ketiga, atom-atom dapat musnah dan lenyap secara fitrah, tidak bisa bertahan selama dua saat berturut-turut, namun secara terus menerus Tuhan menciptakan dan memusnahkannya. Al-Asy’ariyah bersandar pda teks kitab suci seperti QS ar-Rum: 11.

Gagasan dasar atomisme Asyariyah sangat dekat dengan atomisme kuantum. Di dalam kuantum, partikel adalah medan yang terpaket, memiliki karakteristik partikel sekaligus gelombang dengan wujud konkrit sebagai paket gelombang. Maka ia tidak memiliki dimensi sebagaimana materi menurut pemahaman klasik. Selanjutnya, di dalam medan kuantum dikenal adanya kreasi dan pemusnahan partikel. Secara alamiah partikel bisa tercipta dan musnah.

Isra’ miraj dan dua contoh di depan mestinya dapat memicu ilmuwan muslim dan melakukan reorientasi dalam aktivitas ilmiahnya. Mereka perlu kembali mempertemukan ayat-ayat kitab suci dan ayat-ayat kauniyah. Persoalannya kini, tradisi ilmiah di kalangan umat islam masih lemah. Kita masih kekurangan ilmuwan muslim khususnya bidang eksakta, terlebih lagi yang berreputasi internasional.

Sunday, May 25, 2014

Agus Purwanto : Sains Bukan Milik Barat

“AYAT-AYAT SEMESTA”. Demikian judul buku karya Agus Purwanto, doctor fifiks lulusan Universitas Hiroshima ,Jepang. Ayat-ayat Semesta (AAS) memang tidak “meledak” sebagaimana buku “Ayat-Ayat Cinta”(AAC) karya Habiburahman el-Shirazy. Namun, AAS boleh jadi satu-satunya buku yang membahas secara rinci ayat-ayat semesta (kauniyah) yang terdapat dalam al-Quran. Al-Quran ternyata banyak membahas ilmu pengetahuan seperti : garis dan waktu edar matahari, bulan, bumi, susunan kimia manusia, siklus air, kehidupan semuat, madu, dan lain sebagainya. Penemuan-penemuan ilmiah di abad modern memertegas dan membuktikan kebenaran ayat-ayat al-Quran yang diturunkan 14 abad silam.
Untuk mengetahui lebih jauh ayat-ayat semesta yang terdapat dalam al-Quran dan mengapa Agus membukukannya, wartawan Majalah Gontor, Fathurroji NK, mewawancarai dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu. Berikut petikannya.



Bagaimana Anda melihat ayat-ayat semesta (kauniyah)?
Ayat-ayat semesta dalam arti ayat-ayat khauniyah dalam Al-Qur’an merupakan ayat-ayat yang merana, karena diabaikan umat Islam dan praktis tidak pernah dibahas di dalam pengajian-pengajian atau seminar-seminar Islam.



Sejak kapan Anda mulai mendalami ayat-ayat semesta?
Sejak SMA saya merasa penasaran terhadap misteri jagad raya, sedangkan tertarik dan ingin ngaji ayat-ayat kauniyah sejak mahasiswa jurusan fisika ITB. Saya masuk ITB tahun 1983. Tahun 1990 maunya beli kitab tafsir yang membahas ayat-ayat kauniyah dan atas rekomendasi dari seorang kiai saya beli tafsir Fakrur Razi tulisan Imam Muhammad ar-Razi Fakhruddin ibn Allam Dhiyauddin, yang 16 jilid tebal. Tapi ternyata tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Atas rekomendasi sekretaris DDII Pusat, Bapak Nabhan Husen, yang hadir di masjid ITS, saya mendapat tafsir yang sesuai keinginan yaitu tafsir al-Jawahir, tulisan Syeikh Jauhari Thanthawi guru besar Universitas Kairo. Kitab ini saya dapatkan di toko kitab ABC Garut, Jawa Barat. Kitab ini penuh gambar tanaman, obyek langit, nebula dan apolo bahkan juga tulisan kanji.



Mengapa Anda tertarik dengan ayat-ayat semesta?
Awalnya tertarik pada banyak hal seperti sastra, sejarah, filsafat dan lam semesta, tapi kemudian menajam sesuai dengan minat bidang studi. Terlebih lagi ketika diterima di Jrusan Fisika ITB maka jalan formal untuk memahami fenomena jagad raya menjadi terbuka.



Bukankah mengkaji ayat-ayat semesta rumit?
Betul. Justru di sini saya merasa tertantang sekaligus ingin melengkapi kajian yang jarang dilakukan orang atau ulama. Waktu SMA saya ingin melanjutkan studi di jurusan fisika sehingga teman-teman melihat saya sebagai orang aneh sebab fisika selain sulit, juga bidang kering, yang paling-paling setelah lulus jadi guru. Saya masuk fisika selain tertarik pada peristiwa-peristiwa langit dan bom juga karena nama-nama ahli fisika yang saya tahu saat itu tidak ada yang Muslim. Singkat kata, dlu ketika SMA saya ingin tercatat sebagai ahli fisika Muslim yang dirujuk dan ditulis di buku-buku pelajaran supaya Islam tidak identik dengan keterbelakangan.



Pendekatan apa yang Anda gunakan dalam mengkaji ayat-ayat semesta?
Pendekatan teks. Teks dipahami secara harfiah atau apa adanya terlebih dahulu. Lalu pemahaman harfiah itu coba dipahami apa adanya. Misalkan, dalam surat an=-Naml: ayat 18, kata namlatu dipahami sebagai semut betina, bukan sekadar seekor semut seperti pemahaman konvensional yang umum. Atau al-Hadid 25: anzalnaa al hadiida diartikan telah menurunkan besi bukan menciptakan besi seperti dalam terjemah al-Quran oleh Departemen Agama.



Kapan Anda mendapatkan ide untuk menulis buku Ayat-Ayat Semesta?
Waktu itu saya sedang menulis buku ilmu falak dan telah mencapai sekitar 70 persen. Buku itu memang khusus untuk pencinta atau ahli falak. Penulisan buku ilmu falak ini tetap akan saya lanjutkan- meski tidak terikat waktu selesainya—dengan tujuan yang sedikit berbeda dari tujuan awalnya. Saya ingin ilmu falak menjadi mata pelajaran alternative yang memadkan konsep imiah, filsafat, dan metoda eksperimen di SMA Islam. Syujur-syukur bila dilengkapi dengan teropong sehingga orang awam menjadi lebih tertarik dan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan, khususbya ilmu pengetahuan alam yang khusus membahas ayat-ayat semesta. Teropong juga akan mengubah pandangan orang terhadap ilmu atau teori dan alam secara umum



Saat mendalami ayat-ayat semesta, apa yang Anda rasakan?
Semakin merasakan kebenaran dan kedalaman al-Quran sehingga ingin semakin akrab dengan al-Quran, dan semakin tahu bahwa al-Quran tidak mungkin selesai dipahami.



Berapa lama Anda menilis buku Ayat-Ayat Semesta?
Sejak terlintas untuk menulis buku AAS sampai naskah dikirium ke penerbit prlu waktu hamper delapan bulan. Dengan catatan, sebagian naskah sudah ada dan tinggal mengubah redaksi yang sesuai dengn misi AAS, sebagian sudah ada di kepala tapi belum ditulis, dan sebagian ide muncul ketika dalan proses menulis. Itupun ketika melacak ayat-ayat saya dibantu oleh dua mahasiswa bimbingan saya.



Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dalam buku tersebut?
Agar orang Islam berbondong-bondong memelajari, mengembangkan, dan menguasai sains eksakta seperti matematika, fisika, kimia, dan biologi. Pesan bahwa penguasaan sains adalah tugas dari Allah, Sang Khalik. Sains bukan milik orang Barat. Kedua, melalui ayat-ayat kauniyah yang relative lebih mudah diuji kebenarannya di lapangan, mari kita hidupkan lagi pemahaman actual terhadap al-Quran, seperti contoh-contoh yang akan saya sebut nanti soal seut dan diturunkannya besi dari langit. Kita tidak boleh terlalu terkungkung oleh pemahaman kata berdasar kamus yang dibuat para ahli ekian abad yang lalu.



Buku tentang ayat-ayat semesta sangat jarang. Bagaiman tanggapan Anda?
Bukan sekadar jarang, malah hamper tidak ada. Kita dapat melihat di toko-toko buku, banyak sekali buku tentang Islam tapi umumnya membahas masalah social, ekonomi, psikologi, dan sastra. Buku-buku tentang motivasi hidup dan mencapai kebahagiaan hidup menjadi buku-buku laris. Patut kita syukuri meski juga harus dikritik kok bukunya Cuma tema itu-itu saja. Nah, kritik itu kan mengena kepada saya yang doctor fisika. Saya bisa apa dengan kenyataan tersebut? Sya bertekad harus menjelaskan hasil sais fiika kepada nasyarakat luas, syukuyra-syukur sekalian bisa menghidupkan kembali (kajian) al-Qur’an yang mandeg.



Berapa jumlah ayat dalam al-Qur’an yang membahas tentang ayat-ayat semesta?
Kitab yang menjadi acuan saya adalah kitab tafsir al-Jawahir tulisan Syekh Jauhari Thanthawi dari Mesir. Di dalam mukadimah kitab tafsir ini disebutkan bahwa di dalam al-Qur’an ada 750 ayat kauniyah dan hanya 150 ayat hokum. Sejak saya memiliki kitab tersebut tahun 1991, saya sering menyitir data tersebut sampai akhirnya tersentak mengapa kok Cuma menyetir tidak tidak menghitung sendiri, mengumpulkan dalam satu buku lalu membahasnya. Jadi 15 tahun saya Cuma jadi tukang sitir, mirip keledai seperti sindiran kitab suci. Nah, tahun 2007 lalu mulailah saya menghitung dengan dibantu dua mahasiswa saya untuk pembanding. Hasilnya 1.108 ayat, angka yang jauh lebih besar dari Syekh Thanthawi maka selanjutnya saya seleksi ulang sampai sekitar tujuh kali.



Saya pilah ayat-ayat mana yang merupakan “ayat kauniyah” dan menuntun kepada konstruksi ilmu kealaman dan mana yang bukan. Tidak semua ayat yang memuat kata elemen alam, seperti langit dan bumi, merupakan ayat kauniyah yang membawa pada bangunan ilmu kealaman. Sebagai contoh, QS asy-Syuura 42:4. Di dalam ayat ini langit dan bumi menurut saya tidak memberi informasi apa-apa selain menerangkan kekayaan dan kepemilikan Allah SWT. Ayat-ayat seperti ini di dalam klasifisikasi abjad diberi tanda *) yaitu QS 42:4* dan did dalam klasifikasi surat tidak ditampilkan.

Kita bandingkan ayat tadi dengan ayat 25 surat al-Ruum. Di dalam ayat ini terdapat spesifikasi dari langit dan bumi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut, yakni keadaan berdirinya dengan iradah Allah SWT. Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan adalah bagaimana proses dan mekanisme berdiri tersebut, memerlukan waktu berapa lama dan kapan, dan iradah Allah muncul dalam bentuk apa. Pemilahan ini memberikan jumlah akhir ayat kauniyah yaitu 800 ayat.


Anda juga menulis buku tentang belajar dan memahami bahasa Arab?
Betul. Tentang cara praktis belajar nahwu-sharaf ala mahasiswa yang katanya sibuk. Judulnya, Metoda Hikari, Arab Gundul Siapa Takut?



Apa yang ingin Anda sampaikan dalam buku tersebut?
Bahasa Arab bisa dipahami oleh siapa saja yang mau, bukan hanya orang pesantren. Orang yang tidak pernah nyantri seperti saya ini masih mungkin untuk memahaminya.



Mengapa Anda menulis itu, bukankan Anda focus di fisika? Adakah kaitannya?
Ingin berbagi pengalaman. Saya ingin orang-orang non-pesantren yang ingin mempelajari nahwu-sharaf secara otodidak tidak mengulangi kesulitan seperti yang saya alami. Tidak ada kaitannya secara langsung dengan fisika, tetapi pemahaman kita tentang al-Qur’an menjadi tidak utuh tanpa bahasa Arab. Terjemah saja sangat tidak memadai. Misalkan, di dalam kitab suci kadang digunakan fi’il madhi kadang fi’il mudhari’ untuk menceritakan penciptaan-penciptaan. Jelas, pemilihan jenis kata kerja dalam cerita penciptaan bukanlah hal remeh yang dapat ditukar-tukar, karena secara factual memang menceritakan waktu peristiwa yang pasti juga bereda.



Apakah Anda selalu the best di sekolah?
Tidak. Sesekali saja. Itu pun hal yang khusus misalnya matematika. Secara umum saya tidak pernah menjadi the best karena saya hanya tertarik pada hal-hal tertentu dan tidak tertarik pada hal-hal tertentu lainnya. Dan, bila sudah tidak tertarik, ya, sya tinggalkan.
Sebagai ganti the best, kepada mahasiswa saya sering katakana : if you are not the best be the first.Jiwa kepeloporan perlu tetap ditumbuhkan.



Bagaiman cara Anda belajar?
Pilih buku yang menarik, misalnya tulisan tidak rapat dan banyak gambarnya. Buku dibaca berulang-ulang. Saya ingat cerita tentang al-Ghazali bahwa dia kalau baca suatu subyek kadang sampai 40 kali kalau tetap tidak ngerti, ditinggalkan. Eksrem ya? Saya tidak sebanyak itu, tapi yang jelas harus diulang-ulang. Kalau bidang eksakta, harus secara motorik yakni dengan menulis, baik menurunkan atau membuktikan rumus serta menyelesaikan soal-soal. Seperi saya tulis di buku AAS, sedikitnya 10 halaman setiap hari.



Bagaimana Anda mendidik anak-anak?
Secara konensional. Tiga anak pertama saya ajari sendiri ngaji sampai tamat Iqra 6. Dua lainnya masih TK dan bayi. Dua anak terbesar saya simak sendiri dalam membaca al-Quran 30 Juz sampai khatam. Semua anak saya pernah mendengan bacaan al-Qur’an 30 Juz ketika bayi yakni sampai usia satu bulan. Dua anak pertama mendengar kaset tartil sedangkan tiga anak lainnya saya bacakan sendiri masing-masing satu bulan. Sekarang kalau pagi saya berusaha membangunkan mereka untuk shalat Subuh berjamaah di masjid, selain Magrib dan Isya.


*Agus Purwanto dilahirkan di Jember, Agustus 1964. Hobinya mancing, menulis, dan baca puisi. Dari perkawinannya dengan Hanifah, Agus dikaruniai lima anak: Fauzan atsari, Fathiyul Hahmi, Farisi Fahri, Fairuz Fuadi, dan Fikri Firdausi.
Agus lulus pendidikan sarjana (S1) di jurusan Fisika Institut teknologi Bandung(ITB) tahun 1989, dan S2 tahun 1993. Ia kembali menempuh program S2 di jurusan Fisika Universitas Hiroshima Jepang, dan lulus 1999. Gelar doctor fisika juga ia raih di Hiroshima(2002).
Staf pengajar Jurusan Fisika FMIPA ITS Surabaya itu, kini mengepalai Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS, dan menjadi anggota Himpunan Fisika Indonesia dan Physical Society of Japan.
Sumber: http://ayatayatsemesta.wordpress.com/2008/09/02/wawancara-agus-purwanto-dsc-sains-bukan-milik-barat/

Wednesday, May 21, 2014

Al-Qur'an : Sumber Inspirasi Ilmu Pengetahuan

Oleh: Agus Purwanto Pekerja LaFTiFA (Lab Fisika Teori dan Filsafat Alam) - ITS, mantan Vice-President of Saijo-Hiroshima Moslem Association.
“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi

manusia, penjelasann mengenai petunjuk itu dan pembeda …”(QS Al-Baqarah :185).



Al-Qur’an bersama sunnah rasul saw merupakan dua pegangan utama ummat Islam dalam mengarungi hidup di masa dan pasca kehidupan rasul saw. Mengingat fungsinya yang demikian maka banyak karya tulis dibuat dalam rangka mempertahankan spirit dan inti pesan agar tidak keluar konteks tetapi tetap sesuai dengan situasi ruang-waktu.


Berdasarkan kenyataan itu pula, kita perlu menguji pemahaman kita selama ini atas pesan-pesan keduanya. Kini, kita hidup di era cyber, era TI, di era teknologi skala nano (sepermilyar meter). Bahkan mungkin juga era angkasa luar setelah negeri dengan penduduk terpadat di dunia yang konon tidak terlalu kaya berhasil meneguhkan dirinya menjadi negara ketiga yang berhasil meluncurkan manusia ke ruang angkasa. Negeri itu

adalah Cina yang kita kenal dengan pesan “utlubil ilma walau bissin”. Cina mampu meluncurkan pesawat ruang angkasa Shenzhou 5 berawak satu yakni Yang Liwei yang berusia 38 tahun. Singkatnya, era ilmu pengetahuan yang bertumpu pada keruntutan berfikir yang secara teologis lebih condong pada teologi Mu’tazilah yang selama ini justru kita jauhi.

Bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan? Apa makna petunjuk dan pembeda dalam konteks bangunan ilmu pengetahuan? Syekh Jauhari Thonthowi guru besar universitas Kairo penulis kitab tafsir al-Jawahir membuka tafsirnya dengan mengungkap fakta sekaligus menggugat ulama islam. Di dalam al-Qur’an hanya terdapat sekitar 150 ayat hukum sementara ayat kauniyah lima kali lipatnya, yakni sekitar 750 ayat. Ulama islam telah mengerahkan sebagian besar waktu dan tenaganya untuk menulis ribuan kitab fikih tetapi nyaris tidak satu pun buku tentang alam ditulis.

Jelas, selama ini kita terlalu berorientasi pada fiqih meskipun dalam praktek kesehariannya amalan fiqih kita sangat amburadul. Kita perlu menyeimbangkan orientasi dalam memahami dan menangkap pesan kitab suci dan sunnah rasul saw. Syair-syair semisal al-fiqhu anfusu syaiin, fiqih adalah segalaanya atau fiqih adalah ilmu yang palingberharga; idza maa’ tazza dzu ilmin bi ilmin fa ilmul fiqhi aula bi’ tizaazin, bila orang berilmu mulia lantaran ilmunya maka ilmu fiqih membuatnya lebih mulia, perlu didekontruksi maknanya. Kita kini berada di dalam kurun interdepedensi, saling kebergantungan satu dengan yang lain tanpa harus merasa yang satu lebih dari yang lain, tak terkecuali ilmu fiqih.


Kembali ke pertanyaan bagaimana pesan al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan. Jawabnya sangat jelas, Allah akan meninggikan derajat orang beriman di antara kalian dan berilmu (QS 58:11). Ringkasnya, kata kunci bagi kebangkitan islam yang didengung-dengungkan sejak memasuki abad 15 hijriyah adalah iman dan ilmu. Tentu, yang dimaksud ilmu di sini termasuk juga ilmu material seperti matematika, fisika, kimia, biologi, komputer dan berbagai terapannya. Tanpa ilmu material ini kekuatan kita tidaklah maksimal dan tidak akan mampu menembus bumi seperti yang dilakukan Jepang dalam membangun laboratorium SuperKamiokande, pendeteksi neutrino, di kedalaman satu kilometer di bawah permukaan bumi. Kita juga tak bakal mampu menembus langit seperti yang dilakukan oleh para astronot Rusia, Amerika dan Cina meskipun kita telah hafal di luar kepala teks al-Qur’an surat ar-Rahman ayat 33. Kekuatan kita tidak maksimal sebab sulit disangkal bahwa knowledge is power.

Kunci berikutnya sebagai pedoman praktisnya adalah tradisi membaca dan berfikir kritis sebagaimana surat yang pertama turun yaitu iqra’ bismirabbika alladi khalaq, khalaqalinsana min ‘alaq. Kita harus membangun tradisi membaca ayat-ayat tertulis maupun ayat-ayat yang terhampar di jagad raya. Karena bangunan ilmu khususnya ilmu modern sudah didirikan sejak enam abad lalu, kita tak perlu lagi membangun ilmu dari nol dengan mengamati perilaku alam satu demi satu. Adalah cukup dengan menyimak secara seksama apa yang telah dilakukan oleh Copernicus, Kepler, Newton, Laplace, Gauss, Maxwell, Planck, Schrodinger, Feynman, Einstein, Hawking dan banyak lagi lainnya via artikel atau uraiannya dalam berbagai buku teks. Buku-buku yang memuat ilmu-ilmu yang telah dikembangkan para ilmuwan tersebut telah memenuhi perpustakaann besar di seluruh dunia. Ilmunya telah menjadi milik semua orang tanpa kecuali. Persoalannya, kita ingin memiliki dan menguasainya atau tidak. Atau sebaliknya, kita justru ingin dikuasainya?

Setelah menguasai dan mengenali pondasi bangunan ilmu tersebut, kita mungkin melihat adanya bagian-bagian yang perlu ditata ulang dan menjadikan al-Qur’an sebagai sumber inspirasinya. Sebagai contoh, dalam tataran epistemologi, ilmu modern telah menolak memasukkan wahyu sebagai sumber ilmu. Di sinilah kita dapat menyodorkan wahyu sebagai salah satu sumber perolehan ilmu.
Ada contoh yang sangat menarik di dalam kitab suci berkaitan dengan ide wahyu sebagai sumber irformasi ilmu di atas. Ada dua hewan kecil yang diabadikan menjadi nama surat sekaligus kandungan ayatnya di dalam al-Qur’an. Hewan tersebut adalah lebah dan semut Lebah atau an-Nahl menjadi nama surat ke-16 sedangkan semut (an-Naml) surat ke-27. Keduanya dapat dijadikan starting point dalam riset biologi khususnya zoologi. Keistimewaan lebah cukup jelas diuraikan di dalam surat an-Nahl ayat 68-69. Pertama,
Allah memberi wahyu kepada lebah agar membangun rumah-rumah mereka di gunung- gunung dan pepohonan dan makan buah-buahan. Kedua, Allah menginformasikan bahwa dari perut lebah keluar cairan yang dapat diminum dan berfungsi sebagai obat. Dari ayat- ayat ini rahasia kelebihan dan keutamaan lebah relatif jelas dan mudah difahami.
Tetapi Allah menggunakan pendekatan lain ketika memaparkan keistimewaan semut. Allah tidak menggunakan pendekatan apa adanya seperti kasus lebah melainkan menggunakan pendekatan keindahan atau kekuatan bahasa Arab. Di dalam kasus lebah, an-nahl menjadi nama surat sekaligus kata yang digunakan di ayat 68. Pengualangan kata ini juga terjadi tetapi dalam pola yang berbeda dalam kasus semut. An-naml menjadi nama surat dan bagian dari frasa di dalam ayat 18 yakni waadin namli, lembah semut. Tetapi lanjutan ayat ini menggunakan istilah yang berbeda untuk semut yakni an-namlatu bukan an-namlu. Kata an-namlatu berasal dari an-namlu dan mendapat tambahan huruf ta’ marbutoh (ta’ bulat). Lanjutan ayat ini kembali menggunakan an-namlu sehingga bila kita bariskan dari nama surat kemudian tiga kata semut di ayat 18 ini adalah an-namlu, an-namlu, an-namlatu, an-namlu. Sedangkan untuk lebah, an-nahlu dan an-nahlu bukan an-nahlu dan an-nahlatu. Apa artinya ini?
Ayat lain menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan tujuan (QS 44:38-39) dan ukuran tertentu (QS 25:2). Dengan demikian pemilihan kata an-namlu, an- namlu, an-namlatu, an-namlu juga mempunyai tujuan. Tetapi tujuan apa? Kaidah bahasa Arab mengatakan bahwa ta’ marbutoh adalah tanda isim muannats, kata benda feminin atau kata benda berjenis perempuan. Penerapan kaidah ini menghasilkan terjemahan “…telah berkata seekor semut betina …” yang belum pernah penulis temukan dalam al- Qur’an terjemahan bahasa Indonesia. Semua hanya menerjemahkan dengan “…telah berkata seekor semut …” tanpa tambahan kata betina.
Penerjemahan semut betina bagi an-namlatu memberi implikasi lebih lanjut yaitu bila kita perhatikan kalimat lanjutannya yang berupa kalimat perintah (fi’il amr). Singkatnya sang semut betina dalam keadaan sedang memberi instruksi kepada semut (jantan) yang berjumlah banyak. Bila kasus ini kita personifikasi sejenak maka dapat dengan mudah disimpulkan bahwa sang semut betina yang memberi instruksi tidak lain adalah pimpinan komunitas semut. Artinya, menurut kaidah bahasa dan personifikasi, pimpinan semut adalah ratu, ratu semut. Karena kesimpulan ini berasal dari interpretasi bukan informasi langsung yakni kata al-malikatu (ratu) dalam ayat maka sementara kita ambil sebagai hipotesis yang harus dibuktikan oleh penelitian lapangan.
Riset yang dilakukan oleh para biolog (Barat) memang membuktikan bahwa pimpinan semut adalah ratu semut. Artinya, interpretasi linguistik dan personifikasi di atas absah dan terbukti benar. Tetapi yang menjadi perhatian utama dalam pembahasan di sini adalah bagaimana ayat kitab suci diolah dan dijadikan hipotesis suatu riset ilmiah yang pada akhirnya melahirkan sebuah teori yang indah dan komprehensif.
Pertanyaan kritis lebih lanjut, semisal mengapa dipilih semut bukan nyamuk, kecoak, cacing, orong-orong atau hewan kecil lainnya dapat diajukan. Jawabnya juga sudah dikuak oleh para ilmuwan. Majalah Reader Diggest yang terbit di akhir dasawarsa 70-an pernah menguraikan panjang lebar keistimewaan semut dibanding hewann lainnya. Pertama, komunitas semut mempunyai sistem atau struktur kemasyarakatan lengkap dengan pembagian tugasnya. Kedua, masyarakat semut mengenal sistem peperangan kolektif. Artinya kelompok semut tertentu yang dipimpin seekor ratu semut dapat berperang dengan komunitas semut yang dipimpin oleh ratu lainnya. Hewan lain umumnya bertarung individu-individu. Ketiga, semut mengenal sistem perbudakan. Telur sebagai harta benda utama dari pihak semut yang kalah perang akan dikuasai dan
diangkut oleh pihak semut pemenang. Telur-telur ini akan dijaga sampai menetas dan bayi semut ini akan dijadikan budak-budak mereka yang menang. Keempat, semut mengenal sistem peternakan. Pada daun pohon jambu, mangga, rambutan atau lainnya kadang terdapat jamur putih lembut. Di sana ada hewan kecil berwarna putih yang menghasilkan cairan manis. Semut tahu hewan ini malas berpindah karena itu semut membantu memindahkannya ke tempat baru bila lahan di sekitar itu telah mulai tandus dan setelah semut memerah cairannya setiap perioda waktu tertentu. Sampai saat ini belum diketahui hewan lain yang mengenal sistem perbudakan dan peternakan. Kelima, semut mengenal sistem navigasi yang baik.
Itulah salah satu contoh bagaimana ayat al-Qur’an dapat dijadikan sumber ilmu pengetahuan dalam contoh ini biologi. Banyak ayat lainnya yang dapat dijadikan sumber informasi ilmu seperti fisika, kimia dan lainnya selain fiqih yang telah ditulis dalam ribuan buku. Persoalannya kini adalah perubahan orientasi seperti yang disinggung di depan, dari yang sekedar fiqih ke oriantasi ayat kauniyah yang melahirkan sains eksakta
yang terbukti mampu menguasai dan mengendalikan peradaban dunia.

Thursday, May 8, 2014

Muhammadiyah : 10 Tahun Kedepan Lebaran Sering Bersamaan

Jakarta - PP Muhammadiyah melihat ada kemungkinan Idul Fitri akan ditentukan bersamaan pada 10 tahun ke depan. Alasannya, karena disatukan oleh faktor alam.
"Perhitungan persamaan ini sejak 1433 H hingga 1440 H. Dari 10 tahun itu kemungkinan penetapan lebaran lebih banyak bersamaan," ujar Ketua PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas kepada seperti yg dirilis rol.
Dari tahun lalu hingga beberapa tahun ke depan, tambah dia, ijtimak (konjungsi) bumi dan bulan untuk 1 Syawal sering terjadi lebih awal. Sehingga pada saat sore hari derajat wujudul hilal sudah melebihi dua derajat.
Sesuai dengan kesepakatan, kata dia, ketika sudah mencapai dua derajat dimungkinkan hilal bisa terlihat. Namun ia enggan menyebutkan tahun-tahun yang diprediksi akan lebih banyak kesamaan lebaran dalam 10 tahun terakhir. "Yang pasti lebih banyak sama dan sedikit perbedaannya," katanya.
Ia menegaskan kemungkinan lebih banyaknya persamaan waktu lebaran itu, bukan karena perubahan standar metodologi, baik hisab atau rukyat. Namun lebih karena alam yang memungkinkan ijtimak bulan baru Syawal lebih awal. 
Sedangkan untuk penetapan awal Ramadhan akan tetap terjadi pada tahun-tahun ke depan. Walau pun tetap terjadi kemungkinan persamaan penetapan antara metode hisab dan rukyat. Tapi tidak sesering penetapan Idul Fitri.
Tapi bagi mereka yang berpegang metodologi rukyat, jelas dia, hilal ini tetap harus dilihat walau pun dianggap sudah dua derajat lebih.

Monday, May 5, 2014

Rukyat Legault, Ijtimak Sebelum Gurub, dan Penyatuan Kalender Islam



Yogyakarta - Berhasilnya rukyat yang dilakukan Ilmuan Perancis Thierry Legault dengan menangkap hilal pada sudut elongasi terkecil pada saat terjadi Ijtima’ , seakan memberi  harapan baru disatukannya metode hisab rukyat dalam menentukan bulan baru dalam penanggalan Kamariyah. Menurut ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Syamsul Anwar, sudah sekitar 1500 tahun umat Islam belum mampu mempunyai system kaleder terpadu, padahal bangsa Sumeria telah mempunyai kalender berdasarkan bulan 3000 tahun sebelum masehi. Untuk itu menurutnya, sudah saatnya Islam mempunyai system pananggalan terpadu yang mampu diterima seluruh umat Islam di dunia.

Bagaimana kontribusi Rukyat Legault terhadap penyatuan kalender Islam? atau bagaimana teori Ijtimak sebelum Ghurub yang diyakini  Ustaz Agus Musofa mampu menjawab perbedaan pandangan Hisab dan Rukyat? Berikut pemaparan Ketua Majels Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Syamsul Anwar, MA, dalam tulisan berjudul : Rukyat Legault, Ijtimak Sebelum Gurub, dan Penyatuan Kalender Islam. Artikel dapat diunduh di  sini .
Apabila tidak dapat mengunduh, berikut isi artikel;



Oleh: Syamsul Anwar
(Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga
dan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah)

Hari Selasa kemaren (29 Jumadil Akhir 1435 H / 29 April 2014 M) Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta atas prakarsa Ketua Umum PP Muhammadiyah mengadakan ceramah hisab dan rukyat (di kantor tersebut) dengan menghadirkan Thierry Legault, ahli astrfotografi Perancis, bersama Ustaz Agus Mustofa dan Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah sebagai nara sumber. Semula direncanakan juga untuk hadir menjadi nara sumber KH Masdar Farid Masudi dari PBNU, namun beliau berhalangan dan tidak bisa hadir. Acara ini disambut dan ditutup oleh Prof Dr HM Din Syamsuddin, MA.

Tiga hari sebelumnya, tepatnya Sabtu s/d Senin (26-28 April 2014), di Surabaya diadakan acara Worshop Astrofotografi yang juga menghadirkan Thierry Legault. Acara tersebut berlangsung tiga hari, dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan juga dihadiri oleh Prof Din selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah dan selaku Ketua Umum MUI. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengirim 6 (enam) peserta. Acara ini diprakarsai oleh Ustaz Agus Mustofa, Penulis Buku 'Jangan Asal Ikut Hisab dan Rukyat'.

Thierry Legault berhasil membuat satu rekor rukyat hilal saat ijtimak dengan elongasi terkecil. Rekor ini adalah rukyatnya terhadap hilal Jumadil Awal 1431 H pada hari Rabu, 14 April 2010 M dari Montfaucon, Lot, Perancis, dengan jarak sudut bulan-matahari (elongasi) 4,554º. Kemudian jelang Ramadan tahun lalu ia berhasil pula merukyat (dengan teleskop) hilal Ramadan 1434 H saat ijtimak pukul 09:14 Waktu Perancis (14:14 WIB) pada hari Senin, 8 Juli 2013 dengan jarak sudut matahari-bulan 4,6º dari Elancourt, pinggiran kota Paris.

Keberhasilan Legault ini di Indonesia bagi beberapa kalangan dirasa membawa optimisme baru untuk mendekatkan dan mengurangi perbedaan antara penganut hisab dan penganut rukyat. Optimisme ini memang bukan suatu yang berlebihan dan dalam beberapa kasus benar adanya. Sebagai contoh diperkirakan untuk memasuki Ramadan 1435 H yang akan datang akan ada perbedaan dalam memulai 1 Ramadan antara penganut hisab wujudul hilal dan penganut rukyat. Tinggi (piringan atas) bulan adalah 0,5º di Yogyakarta pada hari ijtimak dan ini belum memenuhi kriteria imkanu rukyat yang diterapkan oleh Kemenag RI. Oleh karena itu diperkirakan akan terjadi perbedaan memulai puasa Ramadan 1435 H.

Ijtimak jelang Ramadan yang akan datang terjadi hari Jumat, 27 Juni 2014 M dengan jarak sudut (elongasi) matahari-bulan dari Pelabuhanratu saat ijtimak pukul 15:09:39 WIB adalah 4,496º (4º 29’ 47”) dan di Yogyakarta  4,510º (4º 30’ 37”). Elongasi ini masih di bawah besaran elongasi yang menjadi  dari rekor Legault 4,554º. Namun pada pukul 17:00 WIB elongasi membesar menjadi 4,602º (4º 36’ 10”) di Pelabuhanratu, dan 4,668º (4º 40’ 04”) di Yogyakarta. Besaran elongasi ini telah di atas besaran elongasi yang menjadirekor Legault sehingga ada harapan untuk dapat dirukyat dengan teleskop Legault meskipun masih tergantung kepada keadaan cuaca. Apabila diandaikan hilal dapat dilihat saat ijtimak atau beberapa waktu setelah ijtimak hingga terbenam matahari dan diterima sebagai rukyat yang sah oleh Pemerintah dan masyarakat pendukung rukyat, maka perbedaan tadi dapat dihindari. Ustaz Agus Mustofa mengatakan bahwa Legault akan diundang ke Indonesia jelang Ramadan 1435 H yang akan datang. Mudah-mudahan beliau dapat datang dan berhasil merukyat hilal Ramadan yang akan datang sehingga potensi berbeda itu dapat diatasi.

Itulah sisi optimismenya. Atas dasar itu beberapa pengamat dan ahli mengusulkan kriteria untuk menentukan awal bulan kamariah baru, yaitu ijtimak sebelum terbenamnya matahari (al-ijtima’ qablal gurub). Dasar pemikirannya adalah bahwa saat ijtimak hilal sudah terlihat (dengan teleskop) dan ia kian membesar menjelang terbenamnya matahari. Meskipun tidak terlihat dengan mata telanjang, namun hilal sudah ada, buktinya terlihat saat ijtimak atau beberapa saat kemudian sebelum matahari tenggelam. Ini sisi titik temu rukyat dengan hisab wujudul hilal. Oleh karenanya sore itu, saat matahari terbenam, sudah dapat dipandang sebagai bulan baru. Karena ijtimak terjadi sebelum matahari tenggelam, maka tinggal menggenapkan hari itu hingga sore hari saat di mana matahari terbenam. Lebih jauh, tempo antara ijtimak dan tenggelamnya matahari di waktu sore memberi peluang rukyat lebih besar dan karenanya juga lebih memudahkan dibandingkan rukyat saat matahari terbenam karena peluang rukyat saat itu amat kecil lantaran hilal berada di ufuk hanya sesaat untuk kemudian terbenam di balik ufuk. Lebih lanjut menurut pendukung ijtimak sebelum gurub, saat ijtimak itu adalah saat berakhirnya bulan berjalan dan mulainya bulan baru. Namun karena hari berakhir pada sore hari saat gurub, maka hari digenapkan hingga sore. Penggenapan bulan berjalan dengan melewati keesokan harinya sehingga bulan baru dimulai lusa, seperti praktik yang terjadi, berarti penggenapan lebih dari 24 jam, dan penggenapan dengan lebih dari 24 jam itu tidak logis. Penggenapan, sebagaimana dalam ijtimak sebelum gurub, hanya dari saat ijtimak hingga sore hari saja dan tidak melampaui hingga keesokan hari.

Meskipun pada beberapa kasus ijtimak qablal gurub yang didasarkan kepada keberhasilan rukyat saat ijtimak membawa optimisme, namun dalam beberapa kasus lain ijtimak qablal gurub bukannya tanpa masalah. Beberapa di antaranya dapat disebutkan sebagai berikut. Pertama, tidak semua saat ijtimak hilal akan dapat dirukyat manakala saat itu elongasi sangat kecil sehingga tidak ada permukaan bulan yang tersinari matahari yang menghadap ke bumi. Misalanya saat ijtimak yang bersamaan dengan gerhana atau mendekati gerhana menjelang terbenamnya matahari. Misalnya ijtimak jelang Zulhijah 1437 H yang jatuh hari Kamis, 01 September 2016 M pukul 16:03 WIB dengan elongasi yang sangat kecil [dari Jakarta elongasinya 0,955º (0º 57’)]. Pada pukul 17:30:26 WIB mulai gerhana parsial dan sore itu matahari tenggelam pukul 17:52:45 WIB dalam keadaan gerhana parsial. Sore itu di Jakarta bulan terbenam lebih dahulu beberapa detik, yaitu pada pukul 17:52:04 WIB.

Kedua, Sangat mungkin sekali bahwa meskipun saat ijtimak bulan dapat dirukyat dengan teleskop, namun di sore hari saat matahari tenggelam, bulan telah terlebih dahulu terbenam. Dengan kata lain saat matahari terbenam bulan sudah di bawah ufuk. Contohnya adalah kasus di atas. Contoh lain Syawal 1437 H di mana ijtimak jelang Syawal terjadi hari Senin, 04 Juli 2016 M pada pukul 18:00:58 WIB. Matahari tenggelam di Banda Aceh pada hari itu pukul 18:56:25 WIB dan bulan terbenam pukul 18:50:11 WIB. Jadi saat matahari terbenam bulan sudah di bawah ufuk. Elongasi dari Banda Aceh saat ijtimak pada hari itu di atas besaran elongasi yang menjadi rekor Thierry Legault sehingga ketika ijtimak itu hilal sangat mungkin dilihat dengan teleskop.

Dalam kasus seperti ini timbul masalah baru, apakah syarat bulan terbenam sesudah terbenamnya matahari (orang sering menyebutnya bulan di atas ufuk, tetapi lebih tepat bulan tenggelam sesudah tenggelamnya matahari) dapat diabaikan. Apabila kita memegangi kriteria ijtimak sebelum gurub, maka bulan baru tetap dimulai malam itu dan keesokan harinya walaupun saat matahari terbenam bulan sudah lebih dahulu terbenam. Ini akan menjadi lebih radikal dari wujudul hilal, karena menurut wujudul hilal apabila bulan sudah di bawah ufuk (sudah terbenam lebih dahulu dari matahari), maka keesokan hari belum merupakan bulan baru.

Menurut mereka yang memegangi wujudul hilal tenggelamnya matahari lebih dahulu daripada bulan adalah parameter yang harus dipenuhi. Kalau tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari dan bulan baru dimulai lusa. Dasarnya adalah surat Ya Sin ayat 40 yang menegaskan bahwa tidak layak matahari mengejar bulan dan bahwa malam tidak mendahului siang. Pernyataan “tidak layak mengejar bulan” artinya tidak berposisi di belakang bulan dalam arti tidak tertinggal oleh bulan, melainkan berposisi mendahului bulan. Pertanyaannya: mendahului bulan di mana? Pernyataan “malam tidak mendahului siang” mengisyaratkan adanya fenomena ufuk yang menandai pergantian siang kepada malam. Ayat ini meminta perhatian kita supaya jangan melihat perubahan malam kepada siang di mana ada fenomena ufuk juga, tetapi itu adalah ufuk yang menandai terbitnya matahari. Sebaliknya ayat ini menyatakan malam tidak mendahului siang, yang berarti kita harus memperhatikan perubahan siang kepada malam di mana ada fenomena ufuk yang menandai terbenamnya matahari. Jadi apabila dihubungkan kepada pernyataan bahwa matahari tidak berposisi terlambat dari bulan, maka ditemukan jawaban bahwa tidak terlambat dari (tidak berada di belakang) bulan itu adalah pada saat terbenamnya di balik ufuk. Artinya saat terbenam di balik ufuk yang menandai peralihan siang kepada malam, matahari tidak tertinggal oleh bulan, sebaliknya matahari terbenam mendahului bulan, dan bulan belum terbenam saat matahari terbenam.

Beberapa penulis menyatakan tafsir ini keliru, dan ayat tersebut tidak menegaskan hal seperti itu karena masing-masing benda langit itu beredar pada orbitnya sendiri-sendiri. Perlu ditegaskan bahwa tafsir tidak sekedar sebuah “erklaren”, yakni menjelaskan pernyataan ayat seperti apa adanya secara faktual matematis positivistik. Tafsir lebih dari itu, ia juga merupakan upaya mencari dan kemudian memproduksi “makna”; mencari sesuatu yang berarti dan berguna bagi kehidupan kita. Karena itu tafsir senantiasa berkembang dan makna-makna baru terus terproduksi. Dalam usul fikih dan ilmu tafsir makna itu tidak sekedar dalatul-‘ibarah, tetapi juga ada dalatul-isyarah, dalalatul-iqtida’, dan dalalatud-dalalah. Ruang makna bukan suatu ruang solid dan terdefinisikan secara abadi, melainkan merupakan ruang dinamis yang terus berevolusi. Ruang makna dalam tafsir teks syariah ditentukan oleh relasi makasid syariah, teks (nas), dan konteks. Kebenaran pun juga bukan sekedar kebenaran korespondensi yang memang cocok untuk ilmu kealaman, tetapi juga ada kebenaran koherensi dan kebenaran pragmatis. Sepanjang suatu tafsir memiliki alur logika yang lurus, tidak mengandung kontradiksi dan membawa manfaat kepada kehidupan kita, maka tidaklah dapat dinyatakan keliru apabila tafsir itu diterima.

Jadi dari ayat 40 surat Ya Sin diperoleh suatu syarat bahwa saat matahari tenggelam bulan belum tenggelam. Oleh karena itu apabila bulan sudah lebih dahulu tenggelam dari matahari, maka malam itu dan keesokan harinya belum dapat dinyatakan sebagai bulan baru. Bulan berjalan harus digenapkan 30 hari dan bulan baru dimulai lusa.

Penggenapan dengan menambah satu hari seperti ini tidak berarti lalu penggenapannya lebih dari 24 jam sehingga tidak logis. Penggenapan dihitung sejak berakhirnya hari ke-29 bulan berjalan, yakni sejak terbenamnya matahari pada hari itu. Jadi penggenapannya tidak melebihi 24 jam. Penggenapan tidak dapat dihitung sejak terjadinya ijtimak karena pada saat terjadinya ijtimak hari dan bulan belum berakhir. Bulan berakhir saat matahari terbenam, bukan saat ijtimak, karena bulan dan hari berakhir bersamaan. Seperti halnya hari berakhir pada saat matahari tenggelam, bulan pun berakhir pada saat matahari terbenam. Karena awal bulan dimulai saat matahari terbenam, maka bulan itu diakhiri saat matahari terbenam pada hari ke-29 bulan tersebut apabila parameter tertentu terpenuhi. Apabila belum terpenuhi, maka ditambah satu sebagai penggenapan sehingga bulan menjadi 30 hari. Dengan penambahan 1 hari (24 jam), maka usia bulan sejak terbenamnya matahari pada awal bulan hingga terbenamnya matahari pada akhir bulan yang digenapkan, tidak lebih 30 hari. Nabi saw bersabda, “Bulan itu terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari.” Penambahan 1 hari itu atau pencukupan usia bulan 29 hari sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw sebenarnya adalah suatu bentuk koreksi kalender Islam. Ini adalah kekhasan kalender kamariah karena setiap bulan dilakukan koreksi sehingga tidak akan pernah ada kelebihan hari sebagaimana dalam kalender urfi termasuk kalender Masehi yang juga bersifat urfi.  

Ketiga, kriteria ijtimak sebelum gurub (qablal gurub) sebenarnya merupakan parameter tunggal, yaitu terjadinya ijtimak sebelum gurub itu sendiri. Karena merupakan parameter tunggal, yaitu ijtimak sebelum gurub, maka timbul pertanyaan tipe ijtimak mana yang seharusnya menjadi parameter: apakah ijtimak geosentrik atau ijtimak toposentrik? Ijtimak geosentrik yang terjadi sesudah tengah hari selalu mendahului ijtimak toposentrik. Bisa jadi ijtimak geosentrik terjadi sebelum gurub, sementara ijtimak toposentrik terjadi sesudah gurub, lalu yang mana yang dipedomani dan mengapa? Problem ini bisa timbul dalam kriteria ijtimak qablal gurub dan tidak timbul pada kriteria dengan parameter berlapis seperti wujudul hilal.

Sebagai contoh adalah Syawal 1437 H. Ijtimak geosentrik jelang Syawal 1437 H terjadi hari Senin, 04 Juli 2016 M pada pukul 18:02:09 WIB. Matahari terbenam di Banda Aceh sore itu pukul 18:56:25 WIB. Ijtimak toposentrik dari Banda Aceh terjadi pukul 19:41:54 WIB, artinya sesudah matahari tenggelam di Banda Aceh. Jadi apabila dipegangi ijtimak geosentrik, maka 1 Syawal 1437 H jatuh pada hari Selasa, 05 Juli 2016 H, karena ijtimak (geosentrik) terjadi sebelum gurub. Tetapi apabila dipegangi parameter ijtimak toposentrik, maka 1 Syawal 1437 H jatuh hari Rabu, 06 Juli 2016 M, karena terjadinya sesudah matahari terbenam. Bagi kriteria dengan parameter berlapis seperti wujudul hilal, tidak ada problem tipe ijtimak, karena parameternya bukan satu-satunya ijtimak itu, melainkan akan tersaring oleh parameter berikutnya, misalnya, dalam kasus wujudul hilal, parameter bulan tenggelam sesudah tenggelamnya matahari. Dalam kasus Syawal di atas ternyata di Banda Aceh bulan tenggelam lebih dahulu dari matahari sehingga, menurut kriteria wujudul hilal, 1 Syawal 1437 H jatuh pada hari Rabu, 06 Juli 2016 H. Jadi tidak ada problem tipe ijtimak yang harus dipegangi.  

Semua apa yang dibicarakan di atas sebenarnya adalah hisab dan rukyat tradisional, yaitu hisab dan rukyat yang dilakukan pada lokasi tertentu saja dan dalam perspektif lokal terbatas. Semestinya kita berfikir dan melihat permasalahan ini dalam suatu perspektif global dan lintas kawasan. Hal itu karena salah satu bentuk ibadah Islam itu dilaksanakan pada lokasi tertentu, namun terkait dengan peristiwa di kawasan lain. Dalam hal ini adalah puasa sunat Arafah yang dilakukan di tempat masing-masing seperti kita melakukannya di Indonesia, namun terkait dengan peristiwa di tempat lain, yaitu terjadinya wukuf di Arafah, Mekah. Oleh karena itu kita jangan hanya memikirkan bagaimana menentukan masuknya bulan baru hanya di lokasi tertentu seperti hanya di Indonesia saja, tetapi harus memikirkan koneksitasnya dengan kawasan lain. Jatuhnya tanggal 1 bulan baru harus serentak di seluruh dunia, antara Mekah dan tempat lain seperti negeri kita Indonesia. Inilah artinya kita memerlakukan suatu sistem kalender pemersatu dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia.

Rukyat tidak lagi dapat menampung kebutuhan ini. Ini adalah realitas yang harus kita akui dengan rendah hati. Ini bukan soal mazhab, tetapi adalah kenyataan alam yang harus kita atasi. Rukyat saat visibilitas pertama terbatas kaverannya di muka bumi. Di sebelah barat bumi rukyat mungkin terjadi, namun di sebelah timur bumi tidak dapat dilakukan. Belum lagi soal faktor kondisi bumi dan atmosfir. Bisa jadi hilal Zulhijah terlihat di Mekah, namun karena suatu atau lain sebab tidak terlihat di Indonesia pada hari yang sama sehingga tanggal 1 Zulhijah di Mekah mendahului 1 Zulhijah di Indonesia. Ini akan berdampak kepada perbedaan jatuhnya tanggal 9 Zulhijah di kedua tempat itu yang menimbulkan kapan pelaksanaan puasa sunat Arafah bagi kita di Indonesia. Peralihan dari rukyat kepada hisab bukan berarti pengingkaran terhadap hadis-hadis Nabi saw yang memerintahkan rukyat, melainkan hanya menarjih salah satu maknanya yang mungkin dan perluasan terhadap makna yang ditarjih itu. Salah satu makna yang mungkin itu adalah makna faqduru lahu yang dapat ditafsirkan dengan hisab. Kemudian makna hisab di situ diperluas sehingga mencakup seluruh keadaan, tidak hanya saat ada awan. Mengapa kita harus menarjih dan memperluas makna yang ditarjih itu sehingga mencakup seluruh keadaan adalah karena tuntutan realitas alam dan kebutuhan kita untuk dapat menyatukan hari-hari ibadah kita dan membuat satu penanggalan Islam pemersatu. 

Penulis selalu mengulang-ulang pernyataan bahwa suatu kenyataan memilukan di mana dalam usia hampir 1500 tahun peradaban Islam belum memiliki kalender pemersatu (unifikatif) hingga hari ini. Yang ada hanya kalender lokal yang satu sama lain saling berbeda dan hanya memperhatikan lokal masing-masing. Memang ada kalender hisab urfi yang dapat menyatukan secara global, namun kalender ini kini telah ditinggalkan karena mengandung sejumlah kelemahan, antara lain karena tidak mengikuti gerak faktual bulan di langit.

Tidak hadirnya kalender unifikatif ini adalah karena kita sangat kuat memegangi tradisi merukyat, sementara rukyat itu terbatas kaverannya di muka bumi dan tidak memungkinkan untuk membuat kalender, apalagi kalender unifikatif. Oleh karena itu dengan rendah hati kita harus bersedia untuk menerima hisab yang merupakan satu-satunya sarana yang memungkinkan pembuatan kalender unifikatif. Penerimaan hisab ini bukan karena mengikuti mazhab orang lain, melainkan karena konteks kita telah berubah di mana kita hidup dalam dunia global yang memerlukan satu sistem penanggalan yang dapat menyapa semua kita di seluruh penjuru muka bumi. Selain itu juga kita memerlukan kalender global agar kita dapat menepatkan jatuhnya salah satu hari ibadah, yaitu puasa Arafah kita, serentak dengan peristiwa wukuf di Padang Arafah. Kita harus mengakhiri era di mana peradaban Islam tidak memiliki kalender pemersatu. Oleh karena itu pemikiran kalender lokal sudah saatnya kita tinggalkan. Kita harus membuat kriteria kalender yang berperspektif global. Walaupun orang di tempat lain belum mau menerimanya karena mereka pun masih berfikiran lokal, namun kita dapat mendesakkannya dengan alasan bahwa ini menyangkut suatu hal yang penting, yakni mengenai keabsahan ibadah kita, dan sebelum mendesakkan keperluan kita itu, kita tentu harus telah mempunyai tawaran yang telah teruji secara syar’i dan astronomi.

Dalam pembuatan kalender Islam global sangat perlu memperhatikan dua zona waktu, yaitu zona waktu ujung timur dan zona waktu ujung barat. Sebuah kalender pemersatu jangan sampai memaksa orang Muslim di suatu tempat (zona ujung timur) memasuki bulan baru pada hal mereka belum mengalami ijtimak pada hari sebelumnya. Sebaliknya kalender pemersatu itu juga jangan sampai menahan satu kelompok orang untuk tidak masuk bulan baru, pada hal hilal sudah terpampang secara jelas di ufuk mereka. Dalam konteks ini rukyat Legault yang berdasarkan kepadanya dibuat kriteria ijtimak sebelum gurub dalam beberapa kasus akan meradikalisasi masuk bulan baru dan dalam konteks kalender Islam global dapat memaksa suatu zona memulai tanggal 1 bulan kamariah pada hari tertentu sementara ijtimak di kawasan itu terjadi setelah fajar hari itu. [Uraian lebih luas dapat dibaca dalam buku yang akan segera terbit dengan judul Diskusi dan Korespondensi Kalender Global Hijriah].

Monday, April 28, 2014

Inilah Jadwal Kota-Kota Yang Terjadi Gerhana Matahari Hari ini


Hari Selasa 29 April 2014 akan terjadi gerhana Matahari Cincin. Gerhana Matahari Cincin ini terjadi di belahan Bumi Selatan Bayang-bayang penumbral Bulan melewati Antartika, bagian selatan laut India, dan seluruh benua Australia. Indonesia termasuk negara yang akan terlintasi gerhana ini, khususnya di bagian selatan.

Gerhana Sebagian mulai : 10:52:38 WIB
Gerhana Cincin mulai : 12:57:35 WIB
Puncak Gerhana : 13:04:32 WIB
Gerhana Cincin berakhir : 13:09:36 WIB
Gerhana Sebagian berakhir : 15:14:29 WIB

Kota-kota di Indonesia yang dilewati oleh gerhana adalah seperti tabel berikut:

KOTALINTANGBUJURZONA WAKTUJENIS GERHANAGERHANA MULAI TENGAH GERHANAGERHANA BERAKHIR
Wates-07 52110 08 BT.WIBSebagian13:53:4013:59:1814:05:19
Bantul-07 56110 20 BT.WIBSebagian13:51:0813:59:3714:08:25
Yogyakarta-07 48110 21 BT.WIBSebagian13:56:5513:59:4714:03:03
Wonogiri-07 50110 55 BT.WIBSebagian13:54:1114:00:4814:07:47
Pacitan-08 12111 06 BT.WIBSebagian13:45:4014:00:4914:16:01
Ponorogo-07 52111 27 BT.WIBSebagian13:53:0214:01:4614:10:47
Trenggalek-08 05111 45 BT.WIBSebagian13:48:1914:02:0214:15:52
Tulungagung-08 04111 54 BT.WIBSebagian13:48:4914:02:2514:16:08
Kediri-07 49112 00 BT.WIBSebagian13:54:4114:02:4914:11:15
Blitar-08 06112 09 BT.WIBSebagian13:48:2814:02:5014:17:17
Malang-07 59112 36 BT.WIBSebagian13:51:0914:03:4514:16:30
Pasuruan-07 40112 55 BT.WIBSebagian14:00:5114:04:3514:08:43
Probolinggo-07 45113 13 BT.WIBSebagian13:57:2914:05:0314:12:56
Lumajang-08 08113 14 BT.WIBSebagian13:49:1614:04:4514:20:15
Jember-08 10113 42 BT.WIBSebagian13:49:2514:05:3214:21:38
Bondowoso-07 55113 50 BT.WIBSebagian13:54:0214:05:5914:18:06
Situbondo-07 44114 01 BT.WIBSebagian13:58:4914:06:2714:14:25
Banyuwangi-08 12114 21 BT.WIBSebagian13:49:5614:06:3814:23:16
Negara-08 23114 35 BT.WITASebagian14:47:4515:06:5315:25:47
Tabanan-08 29115 02 BT.WITASebagian14:47:1715:07:3315:27:32
Singaraja-08 08115 05 BT.WITASebagian14:52:1115:07:5615:23:40
Denpasar-08 39115 13 BT.WITASebagian14:45:3815:07:4415:29:23
Mataram-08 35116 07 BT.WITASebagian14:48:0615:09:1615:30:04
Praya-08 43116 17 BT.WITASebagian14:46:5515:09:2615:31:28
Selong-08 38116 30 BT. WITASebagian14:48:1715:09:5115:31:01
Sumbawa Besar-08 30117 25 BT.WITASebagian14:51:4115:11:2615:30:52
Dompu-08 30118 28 BT.WITASebagian14:53:5515:13:0315:31:56
Bima-08 27118 45 BT.WITASebagian14:55:0915:13:3115:31:40
Raba-08 30118 45 BT.WITASebagian14:55:3215:13:2915:32:11
Waikabubak-09 40119 25 BT.WITASebagian14:44:3015:13:3315:41:27
Waingapu-09 40120 15 BT.WITASebagian14:46:1815:14:4715:42:08
Ruteng-08 40120 30 BT.WITASebagian14:56:3015:15:5515:35:02
Ende-08 50121 40 BT.WITASebagian14:57:2115:17:2515:37:07
Maumere-08 30122 08 BT.WITASebagian15:02:3415:18:1815:33:57
Larantuka-08 15123 00 BT.WITASebagian15:09:0015:19:3715:30:25
Kupang-10 12123 35 BT.WITASebagian14:49:3115:18:5515:47:02
Soe-09 52124 20 BT.WITASebagian14:53:5015:20:0815:45:27
Kalabahi-08 12124 32 BT.WITASebagian15:15:5815:21:3515:27:32
Atambua-09 19124 50 BT.WITASebagian14:59:5715:21:0915:41:51